Banyak sekolah hari ini begitu sibuk dengan rutinitas: mengajar, mengelola administrasi, menyusun program, hingga mengurus laporan ke yayasan atau dinas. Namun, ada satu hal yang sering kali membuat sekolah justru tersandung: ketakutan terhadap evaluasi. Kata evaluasi sering dipersepsikan sebagai mencari-cari kesalahan, membuka aib, atau mengungkap kelemahan yang sebaiknya disimpan rapat-rapat. Padahal, di sinilah letak perbedaan antara sekolah dengan fixed mindset dan sekolah dengan growth mindset.
Sekolah dengan fixed mindset cenderung alergi terhadap kritik. Mereka lebih nyaman berada di zona aman, mempertahankan pola lama, dan menganggap bahwa semua sudah berjalan baik-baik saja. Tidak ada dorongan untuk melihat apakah sistem yang ada masih relevan dengan kebutuhan zaman, apakah guru-guru berkembang sesuai kompetensi terbaru, atau apakah layanan kepada orang tua sudah sesuai harapan. Akibatnya, lambat laun, sekolah mulai kehilangan daya saing tanpa pernah benar-benar menyadarinya.
Sebaliknya, sekolah dengan growth mindset justru menjadikan evaluasi sebagai bagian dari budaya. Evaluasi bukan sekadar mencari kesalahan, melainkan jalan untuk menemukan ruang pertumbuhan. Data dari McKinsey (2023) menunjukkan bahwa organisasi pendidikan yang rutin melakukan evaluasi berbasis data memiliki tingkat peningkatan performa hingga 37% lebih tinggi dibanding yang tidak melakukannya. Artinya, sekolah yang mau bercermin secara jujur lebih berpeluang tumbuh dibanding sekolah yang menutup diri.
Pertanyaannya: mengapa masih banyak sekolah takut menghadapi evaluasi? Salah satu jawabannya adalah karena belum terbentuk budaya growth mindset. Ketika evaluasi dipandang sebagai ancaman, maka guru, manajemen, hingga pimpinan sekolah akan sibuk mencari pembenaran. Tapi bila evaluasi dipandang sebagai peluang, maka setiap temuan justru menjadi energi untuk perbaikan.
Contohnya, evaluasi hasil PPDB yang sepi bukanlah kegagalan mutlak, melainkan sinyal untuk memperbaiki branding dan strategi promosi. Evaluasi hasil belajar yang stagnan bukanlah bukti guru tidak kompeten, melainkan kesempatan untuk mengembangkan metode baru dan memperkaya strategi mengajar. Evaluasi kepuasan orang tua yang rendah bukanlah cermin sekolah buruk, melainkan alarm bahwa komunikasi perlu diperkuat.
Di sinilah sekolah Islam perlu berani mengambil sikap: apakah mau berjalan dengan mindset lama yang menolak kritik, atau bertransformasi dengan growth mindset yang menjadikan evaluasi sebagai budaya sehat. Dalam konteks manajemen modern, evaluasi bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Qinara meyakini bahwa setiap sekolah Islam memiliki potensi besar untuk berkembang, tetapi potensi itu hanya bisa tumbuh bila sekolah siap membuka diri terhadap proses evaluasi yang jujur, komprehensif, dan berorientasi solusi. Melalui pendampingan yang terstruktur, Qinara membantu sekolah menata sistem manajemen, memperkuat branding, hingga mendampingi transformasi digital. Semua dimulai dengan keberanian untuk bercermin: “Di mana posisi kita hari ini, dan ke mana kita akan melangkah?”
Karena pada akhirnya, sekolah dengan growth mindset tidak takut evaluasi. Justru dari evaluasi-lah lahir inovasi, perbaikan, dan keberlanjutan.
