Oleh : Badi’ah
Dalam dunia pemikiran Islam modern, Syed Muhammad Naquib al-Attas dikenal sebagai tokoh yang memberi arah baru bagi konsep pendidikan Islam. Ia bukan sekadar akademisi, melainkan pemikir besar yang berusaha mengembalikan makna pendidikan sebagai sarana pembentukan manusia beradab. Di tengah arus modernisasi dan sekularisasi ilmu, Al-Attas hadir dengan gagasan yang menegaskan kembali bahwa pendidikan Islam harus berpijak pada nilai tauhid dan berorientasi pada adab.
Lahir di Bogor tahun 1931, Al-Attas menempuh pendidikan di Inggris hingga meraih gelar doktor dari Universitas London. Ia dikenal luas karena konsep “Islamisasi ilmu pengetahuan” yang diperkenalkannya sejak tahun 1970-an. Gagasan ini bukan seruan untuk menolak sains modern, melainkan upaya menata kembali struktur ilmu agar tidak terlepas dari nilai-nilai ilahiah. Menurut Al-Attas, krisis utama umat Islam bukan terletak pada kemiskinan atau keterbelakangan teknologi, melainkan pada kekacauan makna ilmu. Ilmu telah dipisahkan dari Tuhan, sehingga kehilangan arah moral dan tujuan spiritualnya.
Bagi Al-Attas, inti pendidikan Islam adalah penanaman adab. Ia mendefinisikan adab sebagai pengenalan dan pengakuan terhadap hakikat sesuatu sesuai kedudukannya dalam tatanan ciptaan Tuhan. Pendidikan yang beradab berarti membimbing manusia agar memahami tempat dirinya, alam, dan Tuhannya secara benar. Karena itu, pendidikan Islam tidak boleh hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan karakter dan kebijaksanaan. “Manusia berilmu tetapi tidak beradab,” katanya, “adalah sumber kerusakan terbesar dalam peradaban.”
Untuk mewujudkan gagasannya, Al-Attas mendirikan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur pada tahun 1987. Melalui lembaga itu, ia mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan ilmu modern dengan pandangan hidup Islam. Bagi Al-Attas, pendidikan Islam sejati harus menghubungkan akal dengan wahyu, ilmu dengan iman, dan teknologi dengan moralitas. Pendidikan yang hanya berorientasi pada pasar kerja, tanpa nilai spiritual, akan kehilangan jiwanya.
Pemikiran Al-Attas tetap relevan bagi pendidikan Islam masa kini. Banyak lembaga pendidikan Islam yang terjebak pada dua kutub ekstrem: terlalu tekstual hingga menolak ilmu modern, atau terlalu pragmatis hingga kehilangan dimensi spiritual. Pandangan Al-Attas menawarkan keseimbangan: menerima kemajuan ilmu, tetapi menempatkannya dalam bingkai tauhid dan adab. Pendidikan Islam, menurutnya, bukan sekadar untuk “menjadi pintar”, tetapi untuk “menjadi baik”.
Warisan intelektual Al-Attas mengingatkan kita bahwa tujuan akhir pendidikan bukanlah gelar, status, atau karier, melainkan pengenalan diri dan pengenalan Tuhan. Di tengah zaman yang serba cepat dan materialistis, pemikirannya hadir sebagai pengingat bahwa pendidikan sejati adalah perjalanan menuju kebenaran, dengan adab sebagai kompasnya.
